This is my right; it is the right of every human being. I choose not the suffocating anesthetic of the suburbs, but the violent jolt of the Capital, that is my choice. The meanest patient, yes, even the very lowest is allowed some say in the matter of her own prescription. Thereby she defines her humanity. I wish, for your sake, Leonard, I could be happy in this quietness. (Nicole Kidman as Virginia Woolf in The Hours:2002)
Kalimat indah yang diungkapkan dengan sempurna oleh Nicole Kidman ketika memerankan Virginia Woolf sebagai wanita pengidap depresi berat dan delusional di bawah tekanan suaminya yang mengatur setiap hembus nafas kehidupannya.
Sejak pertama nonton The Hours, sudah kesulitan memahami cerita, bukan karena alur yang rumit seperti 21 gramms misalnya, namun karena film itu sangat depresif….Penasaran tentunya, bahkan sejak dulu udah pengen menulis sesuatu mengenai film itu namun tidak tahu mesti memulai darimana sangking depresifnya film tersebut J
“Tiga wanita yang sedang mengalami depresi, dibintangi oleh Nicole Kidman, Julianne Moore dan Meryl Streep, menjadi tokoh sentral dalam film yang sukses meraih Oscar pada tahun 2002 dan penghargaan Golden Globe pada tahun 2003. Mereka digambarkan dalam tiga buah sketsa berbeda sesuai dengan tahun kehidupan mereka masing-masing dan disatukan oleh buku Mrs Dalloway karya Virginia Wolf. Kisah mengenai Virginia woolf yang sedang menulis buku Mrs Dalloway, diawali dengan gumamannya :”Mrs Dalloway said she’ll buy the flowers herself”, Lauren Graham membaca kalimat ini dan menirukannya sambil berbisik, kemudian Clarissa mengatakan hal ini kepada pasangannya : “Sally, I think I’ll buy the flowers myself” seolah sedang menjadi Mrs Dalloway di jaman modern.”
Film yang penuh misteri bahkan mungkin penuh dengan mistik, mengenai kerumitan perasaan seorang wanita, yang hidup dalam dunia patriarki ini. Wanita-wanita cerdas yang terkurung dalam kehidupannya masing-masing. Virginia Woolf, seorang penulis brillian yang pada akhirnya menyerah dan bunuh diri. Dalam perspektif film The Hours, bunuh diri adalah bukti eksistensinya sebagai manusia. Semasa hidup ia tidak pernah dapat memilih apapun yang ia mau, ia harus menurut pada suami dan dokternya yang semuanya laki-laki, dan saat ia bunuh diri, pada akhirnya ia membuat pilihan. Sebuah interpretasi yang sangat unik dari Michael Cunningham, penulis buku berjudul sama yang telah lebih dulu meraih penghargaan Pulitzer pada tahun 1999. Adegan bunuh diri Virginia Woolf diiringi pembacaan surat yang ditulis untuk sang suami Leonard Woolf dan pernyataan yang sangat menyentuh adalah ketika ia berkata “I owe all of my happiness to you”…….seolah-olah selama hidupnya, bahkan kebahagiaan pun adalah sesuatu yang diberikan oleh sang laki-laki……..
Lauren Graham, housewife di era 1950-an, berpenampilan seperti boneka porselen, diperankan secara sangat manis oleh Julianne Moore dalam balutan rok mengembang bermotif bunga-bunga dan rambut ikal mengkilat sebahu, berada di dapur dan memanggang kue J What a scene!!!!! Sorotan mata yang sangat penuh rasa sakit ketika ia menatap anaknya dan bertanya “What? What do you want?” seolah-olah dalam rumah itu ia terus menerus diawasi dan sama sekali tidak memiliki ruang pribadi bagi dirinya sendiri bahkan untuk “merasa”
Merryl Streep memerankan Clarissa Vaughn, seorang lesbian yang telah tinggal dengan pasangannya selama 18 tahun. Namun demikian ia adalah sang ratu rumah tangga yang pergi membeli bunga di pagi hari, memasak dan memiliki anak. Seorang wanita yang depresi karena ternyata masih mencintai mantan pacarnya yang adalah seorang laki-laki pengidap AIDS dan pada akhir film mati bunuh diri sambil memegang foto sang ibu yang tak lain adalah Lauren Graham.
Domestifikasi wanita, dominasi laki-laki, ketiadaan ruang pribadi, hak reproduksi dan hak membuat pilihan adalah tuntutan-tuntutan kaum feminis yang dapat dikupas dari film ini. Namun jika pada akhirnya tokoh Richard bunuh diri karena sang ibu memilih pergi meninggalkan keluarganya untuk bekerja pada sebuah perpustakaan di Kanada, tidakkah itu seolah-olah memperlihatkan efek buruk dari wanita yang pergi meninggalkan keluarga? Bahkan anak Clarissa yang melihat Lauren datang berkunjung setelah kematian Richard berbisik pada Sally, sang pasangan lesbian ibunya “Is it the devil?”
Wanita yang meninggalkan keluarga adalah sama dengan setan atau penjahat. Ia menghancurkan masa depan anaknya dan keluarganya. Bisa saja adegan ini diinterpretasikan sebagai contoh bagaimana masyarakat dalam konstruksi patriarki ini menghakimi para wanita yang berani membuat pilihan, namun tentunya akan sulit sekali membuang konstruksi patriarki dalam diri kita dan tidak berkata “ voila, gara2 si ibu sih ninggalin anaknya, sampe anaknya akhirnya mati bunuh diri!”
Film The Hours, adalah the hours….atau jam-jam kehidupan seorang wanita yang dimulai sejak adegan alarm di samping tempat tidur mereka berbunyi lalu harus bangun dan berinteraksi dengan semua orang dalam hidupnya namun tidak pernah keluar dari ranah domestik, dan secara tidak langsung juga menutup kehidupan mereka dalam ketertutupan. Jam-jam kehidupan seorang wanita, penuh dengan depresi yang tak terbaca oleh siapapun bahkan diri mereka sendiri, yang kerapkali merasa bahwa mereka tidak seharusnya begini dan mereka seharusnya membahagiakan segenap anggota keluarga. Jam-jam kehidupanh seorang wanita yang penuh dengan pilihan namun tak kuasa membuat pilihan demi bertahan dalam konstruksi-konstruksi yang dibuat masyarakat mengenai seorang wanita. Jam-jam kehidupan yang menggambarkan secara gamblang tuntutan kaum feminis selama berabad-abad baik dalam gelombang pertama, kedua ataupun ketiga……….
Sebuah film yang mengundang interpretasi ganda, sebagaimana wanita yang memang selalu kompleks, sebagaimana dalam hal seksualitasnya yang dapat terpuaskan dari stimulasi beragam organ dan tidak hanya tergantung pada satu organ tunggal seperti laki-laki. The Hours…..film yang sangat wanita, melihatnya adalah seperti sedang melihat seorang wanita secara utuh, seperti sedang berusaha membaca kewanitaan dalam diri sendiri……pada akhirnya menjadi makalah yang sudah mundur 3 minggu dari deadline makalah dikumpulkan, absorbing many hours of my life…….membuat kepala senantiasa tidak tenang namun tak kuasa berbuat apapun dan pada akhirnya juga tidak puas pada hasil akhir analisis meskipun sudah mencapai 11 halaman namun terpaksa dikumpulkan demi sebuah alasan akademis……….Sebuah film yang luar biasa The Hours who really took hours of my life……….
Jumat, 09 Mei 2008
Langganan:
Komentar (Atom)