
Thanks to JSTOR....thanks to WIKI.....jadi Adorno itu mau bilang bahwa society udah terjebak dalam culture industry, yaitu mass industry yang ditumpangi ideologi dengan kesadaran bahwa culture itu gak hanya menciptakan sebuah struktur tapi juga sebaliknya, culture diciptakan oleh sebuah struktur, jadi dilihat sebagai objek.
Alat bantunya adalah teknologi yang bisa sangat manipulatif, contohnya film......dengan adanya montase, lighting, sound, dekupase dll, kemasannya jadi sangat menarik dan orang jadi hanya konsumsi, gak lagi liat ideologi yang sebenernya jadi messagenya. Ideologi yang bermain dalam film seperti ini adalah ideologi menjual, menciptakan culture alias budaya yang didomplengi kekuatan capitalism.
culture industry kesannya dekat dengan high art dan beda dengan massed production tapi ya sama aja.....dari sini terlihat tendensi marxisnya si Adorno.
Yang belum terlihat dari teori Adorno adalah bahwa ada yang namanya true dan false needs....jadi meskipun dia bilang bahwa culture industry itu false needs, kan gak dengan sendirinya high art menjadi true needs? Disinilah Marcuse membuahkan pikirannya mengenai balance antara marxiste dan kapitalis......yaitu bahwa orang memang semestinya kapitalis alias ekonomi minded, tapi jangan kehilangan ideologinya sebagai marxiste yang membuat mereka tetap jadi manusia berpikir, punya conscience bukan hanya kompromis. Kalau itu terjadi, demokrasi bisa terwujud.
Tapi apakah mungkin ada keadaan seperti itu? Tidakkah itu terlalu utopis?
Marcuse kok kayanya ngeliat kebudayaan sebagai hasil, lagi2 objek dan bukan subjek, yang sebenarnya punya kekuatan untuk mengubah sebuah struktur, jadi bisa terjadi perubahan dari bawah bukan sekedar dari atas: mengenai keseimbangan prinsip marxiste dan capitalis ini. Ada interaksi dalam kebudayaan dan interaksi ini yang menjamin kelangsungan kebudayaan.
jadi menurutku............interaksi dalam kebudayaan ini yang penting bukan hanya hasil akhir....tapi saya melihat kebudaayaan dengan segala produk-produknya sebagai hasil interaksi, tukar menukar ganti posisi antara marxisme dan kapitalisme, antara prinsip idealis yang berbasis rakyat dan kebebasan dengan ekonomi kapitalis. Kalau tercapai titik keseimbangan, justru kebudaayaan itu berhenti, karena tak ada lagi interaksi......hanya sesuatu yang stabil, dan membosankan, bagai air tenang tak beriak.......
Alat bantunya adalah teknologi yang bisa sangat manipulatif, contohnya film......dengan adanya montase, lighting, sound, dekupase dll, kemasannya jadi sangat menarik dan orang jadi hanya konsumsi, gak lagi liat ideologi yang sebenernya jadi messagenya. Ideologi yang bermain dalam film seperti ini adalah ideologi menjual, menciptakan culture alias budaya yang didomplengi kekuatan capitalism.
culture industry kesannya dekat dengan high art dan beda dengan massed production tapi ya sama aja.....dari sini terlihat tendensi marxisnya si Adorno.
Yang belum terlihat dari teori Adorno adalah bahwa ada yang namanya true dan false needs....jadi meskipun dia bilang bahwa culture industry itu false needs, kan gak dengan sendirinya high art menjadi true needs? Disinilah Marcuse membuahkan pikirannya mengenai balance antara marxiste dan kapitalis......yaitu bahwa orang memang semestinya kapitalis alias ekonomi minded, tapi jangan kehilangan ideologinya sebagai marxiste yang membuat mereka tetap jadi manusia berpikir, punya conscience bukan hanya kompromis. Kalau itu terjadi, demokrasi bisa terwujud.
Tapi apakah mungkin ada keadaan seperti itu? Tidakkah itu terlalu utopis?
Marcuse kok kayanya ngeliat kebudayaan sebagai hasil, lagi2 objek dan bukan subjek, yang sebenarnya punya kekuatan untuk mengubah sebuah struktur, jadi bisa terjadi perubahan dari bawah bukan sekedar dari atas: mengenai keseimbangan prinsip marxiste dan capitalis ini. Ada interaksi dalam kebudayaan dan interaksi ini yang menjamin kelangsungan kebudayaan.
jadi menurutku............interaksi dalam kebudayaan ini yang penting bukan hanya hasil akhir....tapi saya melihat kebudaayaan dengan segala produk-produknya sebagai hasil interaksi, tukar menukar ganti posisi antara marxisme dan kapitalisme, antara prinsip idealis yang berbasis rakyat dan kebebasan dengan ekonomi kapitalis. Kalau tercapai titik keseimbangan, justru kebudaayaan itu berhenti, karena tak ada lagi interaksi......hanya sesuatu yang stabil, dan membosankan, bagai air tenang tak beriak.......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar