Jumat, 28 Maret 2008

Cari suami adalah ganti nama…….diri sendiri harus dibuang…..

Kau dan Aku adalah Kita…..tapi apa benar Kita mengharuskan semuanya jadi lebur? Menurutku Kita adalah 50 % Kau dan 50% Aku. Bisalah ditawar sesekali jadi 70% Kau dan 30 % Aku, atau sebaliknya, tapi tidak boleh menjadi 100% Kau dan 0% Aku ataupun sebaliknya…..

Dunia ini sudah berputar seperti itu sejak dahulu deka….kau tidak akan bisa merubahnya….well, siapa bilang aku ingin merubah dunia?

Pertama-tama, dunia ini kan memang dibangun atas azas patriarki? Kita, para wanita, hidup dalam aturan-aturan, norma-norma dan kebudayaan yang dibangun oleh para laki-laki…..Perempuan sejak dulu tidak pernah diberi kesempatan untuk mengenal dunia lain selain dapurnya atau ladangnya, kemudian, belum sempat mereka mengenal dunia luar, masuklah doktrin Agama, yang tentunya juga sangat patriarkal….Bukan berarti aku tidak mengakui Agama atau tidak ber Tuhan, tapi Agama memang tidak semestinya dijadikan aturan baku, satu-satunya.

Agama itu disebarkan sebagai sesuatu yang indah, pegangan yang menenangkan, bukan dogma yang penuh dengan ancaman…..Tidak akan pernah kulupa bahwa dahulu, kitab-kitab Agama tidak boleh dibaca oleh siapapun kecuali para pemimpin, apa itu bukan berarti bahwa sejak kemunculannya, para pemimpin Agama memang melarang orang untuk berpikir? Dan pada akhirnya, yang sampai di masyarakat luas adalah Agama memang membuat orang tidak berpikir? Begitu boleh dibaca, yang pertama membaca tentunya adalah laki-laki, gender yang pada saat itu diijinkan untuk bersekolah……jadi dimana peran makhluk bernama perempuan?

Aku feminis? Terserah menyebutku apa saja…….tapi itulah pemikiranku. Aku bukan ingin mengubah dunia, aku hanya ingin membuat duniaku tidak menjadi patriarki semata. Aku orang Jawa yang sejak kecil diajarkan untuk menghormati laki-laki dan menganggap mereka makhluk yang harus dilayani. Sekeras apapun aku menolak, di alam bawah sadarku aku memang menyetujui itu yang sudah diindoktrinasi ke dalam setiap jengkal keberadaanku. Namun bukan berarti soumise yang total, atau penyerahan diri yang total………..Kau dan Aku adalah Kita, tapi dalam Kita itu adalah Kau dan Aku, bukan hanya Kau dan bukan hanya Aku.

Aku dengan senang hati akan mengurus dapur, mengurus suami, melayani makan dan semua hal-hal kecil sehari-hari lainnya, tapi jangan lupakan bahwa itu adalah pilihanKu, bukan karena keharusan semata. Aku punya hak bicara dan membuat pilihan.

Deka, kalau laki-laki itu menghilang, kau tidak boleh mengejarnya, kau juga harus diam sama seperti dia…..ego laki-laki lebih besar dari perempuan, terimalah….seseorang mengatakan itu padaku.

WHAT????????? Jadi aku sebagai manusia harus lebur dan tidak lagi menganggap diriku sebagai makhluk yang punya pikiran dan punya hati? Apa yang kurasa saat dia pergi itu tidak penting? Kurasa sudah cukup untuk tidak marah-marah dan menuntut macam-macam, tapi aku perlu sebuah kompromi dengan diriku sendiri mengenai bagaimana aku akan menerima situasi itu kan? Bahwa kemudian aku memutuskan masih ada satu sms manis setiap hari dariku untuknya hingga saat aku sudah yakin pesanku sampai : bahwa aku baik-baik saja, selalu mendoakan dia dan masih merindukannya dalam hidupku….aku menetapkan deadline untuk diriku sendiri, seminggu mengemis sudah cukup dan setelah itu kita biarkan semuanya mengalir, terserah mau bagaimana…..Menurutku itu sudah lebih dari cukup, dan seharusnya tidak mengganggu ego siapapun. Kenapa aku harus 100% memuaskan ego nya dan menganggap diriku sendiri tidak penting?

WOW, aku terdengar sangat Egois…..nah itu dia…saat perempuan mengatakan : “lalu, apa yang kurasakan tidak penting?” semua orang akan bilang “kau egois” dan saat pria yang mengatakan “aku harus pergi dan kau harus terima itu” orang akan berkata “itu wajar, pria kan memang seperti itu”

Terlihat kan betapa kita hidup dalam pakem-pakem budaya patriarki?

Seorang teman berkata lagi “Apakah kau sudah bersikap atau menempatkan diri sebagai perempuan yang sedang mencari calon suami?”

Pernyataan apalagi itu? Memang bagaimana seharusnya perempuan yang sedang mencari suami itu bersikap?

Mundur dari profesi sebagai dosen UI karena setiap laki-laki hanya akan merasa kalah pintar, dan langsung menganggapmu sombong, arogan, angkuh, merendahkan orang lain, sok pintar dan sok tau? Sehingga akhirnya kau tidak akan mungkin mendapatkan laki-laki manapun dengan profesimu?

Ikut program diet, memanjangkan rambut, memutihkan kulit, melepas kacamat dan ikut beauty pageant?

Atau berhenti berpikir, berhenti kuliah S2, jadi anak rumahan, berhenti hangout sampai tengah malam, berhenti merokok dan minum alkohol, dan pake Jilbab?

Atau berhenti bicara dan stating my opinion karena perempuan seharusnya simple dan tidak punya opini?

Gak bawa laptop kemana-mana dan terlihat mobile, diam menunggu dia meneleponmu dan tidak pernah meneleponnya?

Berhenti bicara bahasa Indonesia yang baik dan benar, merubah gaya bicara agar selalu terlihat rendahan dan tidak tau apa2? Merendahkan volume suara dan intonasi bicara yang terdengar mantap?

Aku clueless…….kalau memang diantara pernyataanku di atas ada yang dibenarkan oleh siapapun, wow………mencari suami adalah mengganti namamu…….nama disini berarti mengganti identitasmu….aku bukan deka lagi, aku adalah orang lain….Deka itu dosen sastra Prancis UI yang jam terbangnya tinggi, mobile dan pastinya arogan, sok tau dan sok pintar, sangat Prancis yang suka pake baju seksi, feminis, merokok, minum alkohol dan pulang pagi.

Kalau memang semua laki-laki tidak ada yang mau untuk melihat sisi manusiku di balik semua label yang diciptakan sendiri oleh lingkungan patriarki ini......I am doomed…matilah aku……tidak akan pernah aku memiliki pasangan hidupku yang akan menjalani kehidupan ini bersamaku dan saling menemani menghadapi semua kesulitan….

But then again……apa semua hal itu worthed? Leburkan identitasmu, jadilah makhluk kosong berdaging tanpa hati tanpa pikiran……demi dinikahi atau menikah? (karena tampaknya bagi perempuan hanya pantas konsep dinikahi dan bukan menikah.......bohong besar mereka semua yang sok-sok an bilang menikah)

2 komentar:

gie mengatakan...

Sista, banyak sekali yang ingin gw komentarin, but it was 11.45 pm and that f*#@ing kelebatan mulai memanggil, so i'm gonna make it short (mungkin gw tambahin di komen kedua nanti, wuehehe): first thing: you're not doomed (and u wont)- gw percaya nggak semua mahluk bernama lelaki itu se-standar (pinginnya sih ngomong 'sebodoh')yang digambarkan (dgn sangat samar) oleh temen lo itu (you know, ketika mencari pasangan hidup, dan perempan harus menangkap tanda2 itu kemudian melempar balik tanda2 bahwa juga sedang mencari pasangan dgn hal2 kayak merubah fisik, nama, apalagi identitas). ada kok yg lagi nyari2 dan melemparkan sinyal2 kayak: silahkan cewek2 pecinta marlboro atau sampoerna menthol; yang menguasai lebih dari 1 bahasa asin; atau mungkin yang berani bikin blog trus ngomongin keanehan dirinya dan keanehan orang lain etc etc; mendekatlah padaku karena aku sedang mencari pasangan hidup. Kalau saat ini belum nemu sinyalnya atau mungkin lu ngelemparin sinyal dan blm dapet balesannya, then it's just a matter of time. Ya, gw tahu waktu itu bisa bentar atau lama (banget malah) tapi yg penting bukan berarti kita perempuan sombong dan tinggi hati sampai2 jadi tertuduh sebagai perempuan yang nggak mau berubah demi menjadi perempuan yang bisa melempar sinyal standar dalam mencari pasangan IN ORDER to get the echoes or the reply sooner...No, No, No, itu sih bukan cuma melebur identitas, itu sih melacur namanya! Sight...nulisnya aja udh cape begini, ngelantur gak yah gw?! Ahh bodo amat (maklum dunk, gw kan atonia, wuahahaha...).One thing dear:nothing's wrong with you, you're good, you're not a problem. You (and i), we're just not a STANDARD but not being standard doesn't mean wrong, it doesn't mean alien, it even doesn't mean a sin. We're just different (and God loves different, oh yes HE does, He
doesn't like common, He hates unity,that's why we have this kinda wars in our life- cause God keeps these wars). And the problem of being diff. or unique is just people can take it easly or qickly. It takes time, so yeah we all need time, they need time. And looking your soulmate? damn right it takes time...NOTE: The "He" word that is replacing God means nothing to do with patriacal or what so ever, it's just a noun that normally used for God.
Whoooaaa....gw jelas2 melantur, tapi gw tahu lu pasti ngeh maksud gw, wong lu dan gw sama-sama orang aneh, kan?! Jadi kapan kita bikin konperensi "menjadi sesorang yang melemparkan sinyal mencari pasangan tanpa harus menjadi pelacur?" -luv-

diduniadeka mengatakan...

Alhamdulillah gue punya temen-temen yang sama anehnya.....Daripada melacurkan identitas, gue sih mendingan melacurkan badan gue :-)