Selasa, 08 Juli 2008

BUlutangkis Thomas Uber in MY eyes and my eyes only loh......

Thomas Uber 2008
Kebangkitan Memori Kolektif Berbangsa
Menjelang Satu Abad Kebangkitan Nasional

Perhelatan akbar bulutangkis Thomas Uber 2008 telah selesai digelar pada 11 – 18 Mei lalu. Beratus, beribu bahkan mungkin berjuta tulisan terekam di dunia maya berupa archives artikel jurnal tertentu, opini-opini dalam forum diskusi atau sebagai catatan harian di blog. Cerita-cerita yang tidak tertulis mengenai Indonesia dan bulutangkis dapat digali dalam memori kolektif bangsa yang telah begitu banyak terisi dengan kejayaan Indonesia di dunia olahraga yang satu ini. Berbekal memori kolektif akan kejayaan masa lampau ini pulalah euforia Thomas Uber 2008 terjadi dalam kurun waktu kurang lebih satu minggu secara intensif.
Mengamati tulisan-tulisan dalam blog, di mana-mana berserakan kata bulutangkis dan nasionalisme, begitu pula dengan ulasan-ulasan di koran. Bahkan di salah satu blog tertulis “Di satu sisi, hingar bingar Thomas dan Uber Cup ini sangat positif terhadap rasa nasionalisme penduduk Indonesia. Sudah lama sekali rasanya, sejak terakhir kali kita sebagai bangsa bersorak dan berdoa mendukung negara dalam suatu event Internasional.”[1] Penyelenggaraan piala Thomas Uber seolah menjadi ajang untuk mengobati kerinduan sebagai bangsa, dan dengan mendukung tim Indonesia secara langsung ataupun tidak langsung berarti sama dengan memiliki nasionalisme yang kuat terhadap bangsa. Konsep Ben Anderson mengenai imagined community terlihat ketika rakyat Indonesia dari beragam kelas, beragam penjuru tanpa perlu kenal satu sama lain telah merasa menjadi “Indonesia” lewat ajang ini. Perwujudan dari nasionalisme tidak hanya dari sorak sorai baik keras ataupun dalam hati namun juga lewat penampilan fisik yang diwarnai nuansa merah-putih saat pergi “nonton bareng” ke Senayan. Melalui serangkaian kegiatan bersama ini perasaan sebagai satu nation terwujud dan menjadi pengikat yang pada dasarnya dibutuhkan karena menurut Anderson, bangsa adalah imajiner.
Kerinduan sebagai bangsa yang besar yang tersimpan dalam setiap benak para penonton membuat para pedagang meraih keuntungan berlipat ganda di arena pasar kaget bernuansa merah-putih. Topi, kaos, jaket, balon sampai VCD pertandingan bulutangkis dari 1980 – 2008 dijual disini. Keuntungan yang diraih berkisar antara 500.00 – 800.000, dan harga satuan bagi masing-masing benda adalah sekitar 20.000 – 55.000. [2] Benda-benda ini menjadi simbol yang dikonsumsi demi memperteguh nasionalisme dan perasaan sebangsa-senegara. Pedagang diuntungkan dengan rupiah yang berhasil diraih dan pembeli merasa puas karena telah berhasil membawa pulang “oleh-oleh kebangsaan”. Ajang pertandingan bulutangkis bukan lagi perhelatan olahraga semata namun sudah menjadi ajang transaksi dan rekonstruksi identitas. Sebagaimana dijabarkan Hall dalam the circuit of culture, yaitu bahwa identitas dapat dikonstruksi melalui konsumsi.
Dalam arena Thomas-Uber 2008, tak hanya tim Indonesia yang berlaga di lapangan, namun kapital budaya, kapital ekonomi dan kapital sosial juga sedang bertarung dalam arena. Kapital ekonomi dipertukarkan di wilayah dagang yang nyata oleh pedagang kaki lima, sementara itu para pemilik modal mengiklankan produk secara ekstrim melalui sorotan iklan produk di tengah-tengah lapangan bulutangkis yang terlihat dengan jelas dan berganti-ganti di layar televisi, dan tentunya di pinggir lapangan. Secara ekslusif BRI melakukan promosi pembelian tiket dengan kartu kredit BRI, Trans 7 dan Trans TV membeli hak tayang eksklusif dan tak terhitung merk-merk yang barkaitan dengan baju, sepatu, raket dan shuttle cock yang melekat pada pertandingan. Kapital budaya berada dalam tingkat memori sebagai bangsa Indonesia yang pernah jaya di bidang bulutangkis dan kapital sosial dapat terlihat dari massa yang datang berkelompok. Ajang ini menjadi ajang sosialisasi antar individu dalam kelompok yang tidak hanya terlihat secara nyata namun juga tertuang dalam sejumlah forum diskusi di dunia maya selama beberapa waktu.
Konsumsi adalah sebuah prinsip bagi maksimalisasi eksistensi karena konsumsi memberikan sebuah makna baru bagi seorang konsumen. [3] Konsumsi atas benda-benda bernuansa merah putih ini tidak lagi berfungsi sebagai konsumsi produk namun menjadi konsumsi simbol yang ketika dikaitkan dengan empat fase pencitraan Baudrillard yaitu representasi, ideologi, dan realitas palsu karena sama sekali tidak mencerminkan kenyataan, maka akan muncul kata nasionalisme dalam kaitannya dengan ideologi, dan pertanyaan selanjutnya, apakah nasionalisme yang muncul adalah semu atau nyata?
Menilik kenyataan yang ada dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kehidupan rakyat Indonesia tampak sangat jauh dari kenyamanan hidup sebagai warganegara. Lumpur Lapindo yang tak kunjung teratasi, tingkat bunuh diri akibat keadaan ekonomi, anak-anak putus sekolah, dan masih banyak lagi potret suram bangsa ini yang tak henti-hentinya mendera surat kabar atau layar televisi. Pada saat demikian ini terkuak sebuah pertanyaan besar mengenai nasionalisme, “Apa itu Indonesia?”, “Di manakah peran warga negara yang memiliki rasa nasionalisme tinggi dan mengibarkan merah putih melalui berbagai atribut di Senayan?”
Mungkin sungguh naif untuk semena-mena “menuduh” bahwa peristiwa-peristiwa buruk yang terjadi di negeri ini adalah akibat langsung dari tidak adanya nasionalisme rakyat Indonesia. Namun demikian, sebagian besar dari bencana-bencana yang ada berpusat pada tekanan ekonomi yang di dalamnya terkait dengan relasi kuasa antara pemilik modal dengan pekerja. Melihat pengunjung pertandingan Thomas dan Uber di Senayan, lautan massa yang ada adalah rakyat dan bukan para pemilik modal, entah karena memang tidak peduli dengan Indonesia atau terlalu sibuk mengatur strategi bisnis, atau karena telah memiliki home theater di rumah masing-masing untuk menyaksikan acara ini dengan nyaman. Lagi-lagi, mungkin, yang perlu digugah rasa nasionalismenya adalah para pemilik kekuasaan dan pemilik modal agar lebih peduli membangun bangsa alih-alih membangun imperium harta benda dan kekuasaan pribadi.
Kejayaan masa lampau Indonesia dalam kancah olahraga menjadi salah satu dasar penguat euforia Thomas – Uber 2008. Bulutangkis diyakini sebagai pembawa keharuman nama bangsa saat meraih emas di olimpiade dan berkali-kali menjuarai kompetisi Internasional. Berbekal memori kolektif inilah massa berduyun-duyun datang ke Senayan, yang memang dibangun sebagai pusat olahraga dan seringkali menjadi tuan rumah bagi ajang olahraga internasional. Akan tetapi, apakah makna Senayan saat ini masih bertahan sebagai kompleks olahraga bercitra internasional? Tampaknya dengan dua mall raksasa yang berhadap-hadapan di Jalan Asia-Afrika, dan pembangunan sebuah mall baru di sudut Senayan bertetangga dengan Hotel Atlit, kawasan ini lebih terkenal sebagai pusat belanja Internasional yang di dalamnya dapat ditemukan produk-produk lux dari kota-kota mode terkemuka. Ajang Thomas-Uber telah sukses, untuk sesaat, mengembalikan citra Senayan sebagai pusat olahraga dan memproduksi space dalam konteks nasionalisme Indonesia.
Bangsa Indonesia yang senantiasa terombang ambing dalam keterpurukan ekonomi menjelang satu abad kebangkitan bangsa dan dihadiahi kenaikan BBM beberapa hari setelah Thomas Uber 2008 selesai digelar nampaknya meiliki kerinduan yang sangat akan perasaan keIndonesiaan. Setelah bertahun-tahun semboyan “memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat” berhenti bergaung dan digantikan dengan berita korupsi di tubuh KONI dan atlet-atlet tanpa tunjangan, ajang ini tampak menjanjikan pencerahan dan kebangkitan. Kembali Indonesia didera demam bulutangkis, di beberapa blog dan forum diskusi dikatakan bahwa mereka jadi kembali bermain bulutangkis yang sudah sejak lama tak lagi dilakukan. Kata-kata “Hidup Indonesia” kembali terdengar di mana-mana, bahkan lebih bergaung jika dibandingkan dengan saat perhelatan akbar Kebangkitan Bangsa diselenggarakan negara di stadion Senayan.
Krisis identitas sebagai orang Indonesia yang merupakan akibat langsung dari nation-building yang bisa dikatakan hampir tidak ada sementara terpaan globalisasi terus menerus mendera dapat teratasi sesaat dalam euforia Thomas-Uber 2008. Semua orang mendadak menjadi “Indonesia”, menjadi “nasionalis” dan mengagung-agungkan nasionalisme yang pada dasarnya terletak dalam memori kolektif yang selama ini ditidurkan baik dengan sadar ataupun tidak sadar. Setiap penonton menjadi jelas “indonesianya” melalui atribut dan rasa kebersamaan, baik ketika menyaksikan pertandingan secara langsung ataupun ketika menonton di rumah lewat layar kaca.
Sebuah pertandingan olahraga, dalam konteks ini adalah pertandingan bulutangkis Thomas-Uber 2008, dapat menjelma menjadi banyak makna dan bukan hanya sebagai spectacle belaka. Nama bangsa yang dipertaruhkan dalam pertandingan ini sanggup membangkitkan memori kolektif akan kejayaan bangsa dan menjadi pengikat bagi sebuah komunitas berbangsa. Di balik itu semua, serbuan kapitalis ikut meramaikan ajang olahraga ini dan bertarung meraih kekuasaan. Namun demikian tampaknya dalam olahraga ini semua pemilik modal dimenangkan, baik pemilik kapital ekonomi, kapital budaya ataupun kapital sosial. Bisa jadi hal ini terjadi karena pertarungan kapital yang ada terjadi tanpa sadar dan begitu mengecoh. Nasionalisme yang nyaris tak pernah memiliki ruang dalam himpitan kesulitan ekonomi dapat menghuni ruang yang besar berkat ajang bulutangkis ini. Thomas-Uber 2008 seolah menjanjikan harapan bahwa setelah seratus tahun berlalu sejak kebangkitan bangsa, Indonesia masih dapat menjadi bangsa yang bersatu, lepas dari ketidaksuksesan mendapatkan piala Thomas-Uber. Akan tetapi sayangnya, melihat kenyataan lebih lanjut, nasionalisme yang terbentuk hanyalah menjadi euforia dan kemudian bangsa Indonesia kembali sibuk dengan kenaikan BBM dan konflik antar umat beragama. Sebuah bukti bahwa proses yang terjadi bukanlah proses produksi nasionalisme namun masih sebatas konsumsi yang secara semu mencitrakan nasionalisme berbangsa dan bernegara Indonesia.



Daftar Pustaka

Anderson,Ben. 1991. Imagined Community. London-New York : Verso.

Baudrillard, Jean. 1986. La Socété de Consommation. Paris : Gallimard

Bourdieu, Pierre. 1979. La Distinction.Paris:les éditions de minuit

Hall, Stuart et al. 1996. Culture, Media, Language. London-New York: Routledge

“Penjual Kaos Kebanjiran Rejeki Saat Thomas-Uber Cup”, Kompas, Rabu, 14 Mei 2008

Situs Internet :

http://yuwanastiani.wordpress.com/2008/05/20/demam-thomas-uber-cup-2008/

http://www.lautanindonesia.com/forum/index.php?topic=8214.40

http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2008051100562313

http://stephzen.multiply.com/journal/item/205/Thomas-Uber_Cup_2008

www.kompas.com

www.bulutangkis.com

http://www.bultangmania.com
[1] http://yuwanastiani.wordpress.com/2008/05/20/demam-thomas-uber-cup-2008/

[2] “Penjual Kaos Kebanjiran Rejeki Saat Thomas-Uber Cup”, Kompas, Rabu, 14 Mei 2008

[3] Baudrillard, Jean. La Société de Consommation.

Tidak ada komentar: