Kamis, 17 Juli 2008

Ladang Kelapa Sawit Ilegal biar produk jadi murah dan bagus? Mereka menjawab "Gue sih gak peduli"

Aku sedih sekali........................ada kabar soal produk besar dan pasta giginya kupakai sejak kecil tak pernah ganti begitupula dengan sabun Lux nya yang sering sekali gue beli...ternyata minyak nya diambil dari perkebunan kelapa sawit Ilegal...Berarti........mereka menebang hutan seenaknya,bikin perkebunan kelapa sawit yang ga bayar pajak, bayar petani juga murah, mengusir orangutan dan suku2 asli setempat.......cuma supaya produk mereka bisa murah dan berkualitas.......Sumber dari Greenpeace dan Mbak Titiek yang kerja di perusahaan Perhutanan...Pas BIlang sama salah satu temen yang well educated, nonton national geographic dan discovery channel, reaksinya cuma "terus kenapa?" then............dia bilang "Gue sih ga peduli, biarin aja, yang penting gue dapet produk murah dan bagus".......

Gue gak maksa semua orang peduli apalagi brenti beli produknya, but at least ada sedikit kepedulian untuk berkomentar "tau dari mana loe?Gosip kali..." atau "masa sih?" udah deh gitu aja...tapi kalo dah ber statement kaya diatas...........widiiiiiiiihhhhhhhhh Aku tidak terima...Kalo lawan bicara gue gak berpendidikan baik, gue akan menganggap reaksinya wajar.....Ini adalah salah satu most educated friend yang tadinya gue pikir akan bisa diajak discussed soal ini...bahkan untuk ngomongin ini pun udah ga peduli lagi........duh duh duh.......negaraku bangsaku yang tercinta.....Gue emang ga bisa dan ga akan pernah bisa mungkin untuk do something buat negeri ini...tapi seperti yang dibilang orang2 religius itu soal : niat aja dah dapet satu nilai kok.....at least ada peduli nya dong...ada tindakan kecil nya............

Hidup lo nyaman...hidup lo susah....tapi kan tetep bagian dari negara yang bobrok ini bukan? Lo merasa jauh dari negara dan bangsa sendiri,makanya gak peduli sama sekali, yang penting hidup gue normal bisa cari duit etc.....tapi..............untuk apa kita berpendidikan agak lebih, kalo untuk peduli hal2 sekecil ini aja gak mampu???????????????????

Selasa, 08 Juli 2008

Malam Matahari dan Diriku

Aku, si perempuan pecinta bintang dan rembulan di langit malam….yang menikmati dengan sempurna sejuknya angin dingin tanpa matahari membalut langit, merasa terselimuti hitam pekat cakrawala yang menyerupai beludru di mataku yang sepertinya juga selalu berbinar jika malam datang.

Aku tak pernah mampu miliki pagi, malam terlampau mempesona untuk ditinggalkan meski sekejap, seandainya dapat memilih, malam adalah temanku, pelindungku dan dalamnya aku suka hidup. Apa itu matahari? Aku suka sinarnya, aku suka betapa dengan biasnya dedaunan terlihat hijau dan air terlihat biru, namun bagaimana mungkin kumiliki malam sekaligus siang?

Aku, si perempuan malam, pantas saja aku selalu tertarik pada gairah matahari. Orang-orang yang bisa bersinar seterang matahari memang selalu menarik dan mampu memberkaskan sinar pada langit malamku, lagipula bukankah bulan pun bersinar berkat pantulan cahaya matahari?

BUlutangkis Thomas Uber in MY eyes and my eyes only loh......

Thomas Uber 2008
Kebangkitan Memori Kolektif Berbangsa
Menjelang Satu Abad Kebangkitan Nasional

Perhelatan akbar bulutangkis Thomas Uber 2008 telah selesai digelar pada 11 – 18 Mei lalu. Beratus, beribu bahkan mungkin berjuta tulisan terekam di dunia maya berupa archives artikel jurnal tertentu, opini-opini dalam forum diskusi atau sebagai catatan harian di blog. Cerita-cerita yang tidak tertulis mengenai Indonesia dan bulutangkis dapat digali dalam memori kolektif bangsa yang telah begitu banyak terisi dengan kejayaan Indonesia di dunia olahraga yang satu ini. Berbekal memori kolektif akan kejayaan masa lampau ini pulalah euforia Thomas Uber 2008 terjadi dalam kurun waktu kurang lebih satu minggu secara intensif.
Mengamati tulisan-tulisan dalam blog, di mana-mana berserakan kata bulutangkis dan nasionalisme, begitu pula dengan ulasan-ulasan di koran. Bahkan di salah satu blog tertulis “Di satu sisi, hingar bingar Thomas dan Uber Cup ini sangat positif terhadap rasa nasionalisme penduduk Indonesia. Sudah lama sekali rasanya, sejak terakhir kali kita sebagai bangsa bersorak dan berdoa mendukung negara dalam suatu event Internasional.”[1] Penyelenggaraan piala Thomas Uber seolah menjadi ajang untuk mengobati kerinduan sebagai bangsa, dan dengan mendukung tim Indonesia secara langsung ataupun tidak langsung berarti sama dengan memiliki nasionalisme yang kuat terhadap bangsa. Konsep Ben Anderson mengenai imagined community terlihat ketika rakyat Indonesia dari beragam kelas, beragam penjuru tanpa perlu kenal satu sama lain telah merasa menjadi “Indonesia” lewat ajang ini. Perwujudan dari nasionalisme tidak hanya dari sorak sorai baik keras ataupun dalam hati namun juga lewat penampilan fisik yang diwarnai nuansa merah-putih saat pergi “nonton bareng” ke Senayan. Melalui serangkaian kegiatan bersama ini perasaan sebagai satu nation terwujud dan menjadi pengikat yang pada dasarnya dibutuhkan karena menurut Anderson, bangsa adalah imajiner.
Kerinduan sebagai bangsa yang besar yang tersimpan dalam setiap benak para penonton membuat para pedagang meraih keuntungan berlipat ganda di arena pasar kaget bernuansa merah-putih. Topi, kaos, jaket, balon sampai VCD pertandingan bulutangkis dari 1980 – 2008 dijual disini. Keuntungan yang diraih berkisar antara 500.00 – 800.000, dan harga satuan bagi masing-masing benda adalah sekitar 20.000 – 55.000. [2] Benda-benda ini menjadi simbol yang dikonsumsi demi memperteguh nasionalisme dan perasaan sebangsa-senegara. Pedagang diuntungkan dengan rupiah yang berhasil diraih dan pembeli merasa puas karena telah berhasil membawa pulang “oleh-oleh kebangsaan”. Ajang pertandingan bulutangkis bukan lagi perhelatan olahraga semata namun sudah menjadi ajang transaksi dan rekonstruksi identitas. Sebagaimana dijabarkan Hall dalam the circuit of culture, yaitu bahwa identitas dapat dikonstruksi melalui konsumsi.
Dalam arena Thomas-Uber 2008, tak hanya tim Indonesia yang berlaga di lapangan, namun kapital budaya, kapital ekonomi dan kapital sosial juga sedang bertarung dalam arena. Kapital ekonomi dipertukarkan di wilayah dagang yang nyata oleh pedagang kaki lima, sementara itu para pemilik modal mengiklankan produk secara ekstrim melalui sorotan iklan produk di tengah-tengah lapangan bulutangkis yang terlihat dengan jelas dan berganti-ganti di layar televisi, dan tentunya di pinggir lapangan. Secara ekslusif BRI melakukan promosi pembelian tiket dengan kartu kredit BRI, Trans 7 dan Trans TV membeli hak tayang eksklusif dan tak terhitung merk-merk yang barkaitan dengan baju, sepatu, raket dan shuttle cock yang melekat pada pertandingan. Kapital budaya berada dalam tingkat memori sebagai bangsa Indonesia yang pernah jaya di bidang bulutangkis dan kapital sosial dapat terlihat dari massa yang datang berkelompok. Ajang ini menjadi ajang sosialisasi antar individu dalam kelompok yang tidak hanya terlihat secara nyata namun juga tertuang dalam sejumlah forum diskusi di dunia maya selama beberapa waktu.
Konsumsi adalah sebuah prinsip bagi maksimalisasi eksistensi karena konsumsi memberikan sebuah makna baru bagi seorang konsumen. [3] Konsumsi atas benda-benda bernuansa merah putih ini tidak lagi berfungsi sebagai konsumsi produk namun menjadi konsumsi simbol yang ketika dikaitkan dengan empat fase pencitraan Baudrillard yaitu representasi, ideologi, dan realitas palsu karena sama sekali tidak mencerminkan kenyataan, maka akan muncul kata nasionalisme dalam kaitannya dengan ideologi, dan pertanyaan selanjutnya, apakah nasionalisme yang muncul adalah semu atau nyata?
Menilik kenyataan yang ada dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kehidupan rakyat Indonesia tampak sangat jauh dari kenyamanan hidup sebagai warganegara. Lumpur Lapindo yang tak kunjung teratasi, tingkat bunuh diri akibat keadaan ekonomi, anak-anak putus sekolah, dan masih banyak lagi potret suram bangsa ini yang tak henti-hentinya mendera surat kabar atau layar televisi. Pada saat demikian ini terkuak sebuah pertanyaan besar mengenai nasionalisme, “Apa itu Indonesia?”, “Di manakah peran warga negara yang memiliki rasa nasionalisme tinggi dan mengibarkan merah putih melalui berbagai atribut di Senayan?”
Mungkin sungguh naif untuk semena-mena “menuduh” bahwa peristiwa-peristiwa buruk yang terjadi di negeri ini adalah akibat langsung dari tidak adanya nasionalisme rakyat Indonesia. Namun demikian, sebagian besar dari bencana-bencana yang ada berpusat pada tekanan ekonomi yang di dalamnya terkait dengan relasi kuasa antara pemilik modal dengan pekerja. Melihat pengunjung pertandingan Thomas dan Uber di Senayan, lautan massa yang ada adalah rakyat dan bukan para pemilik modal, entah karena memang tidak peduli dengan Indonesia atau terlalu sibuk mengatur strategi bisnis, atau karena telah memiliki home theater di rumah masing-masing untuk menyaksikan acara ini dengan nyaman. Lagi-lagi, mungkin, yang perlu digugah rasa nasionalismenya adalah para pemilik kekuasaan dan pemilik modal agar lebih peduli membangun bangsa alih-alih membangun imperium harta benda dan kekuasaan pribadi.
Kejayaan masa lampau Indonesia dalam kancah olahraga menjadi salah satu dasar penguat euforia Thomas – Uber 2008. Bulutangkis diyakini sebagai pembawa keharuman nama bangsa saat meraih emas di olimpiade dan berkali-kali menjuarai kompetisi Internasional. Berbekal memori kolektif inilah massa berduyun-duyun datang ke Senayan, yang memang dibangun sebagai pusat olahraga dan seringkali menjadi tuan rumah bagi ajang olahraga internasional. Akan tetapi, apakah makna Senayan saat ini masih bertahan sebagai kompleks olahraga bercitra internasional? Tampaknya dengan dua mall raksasa yang berhadap-hadapan di Jalan Asia-Afrika, dan pembangunan sebuah mall baru di sudut Senayan bertetangga dengan Hotel Atlit, kawasan ini lebih terkenal sebagai pusat belanja Internasional yang di dalamnya dapat ditemukan produk-produk lux dari kota-kota mode terkemuka. Ajang Thomas-Uber telah sukses, untuk sesaat, mengembalikan citra Senayan sebagai pusat olahraga dan memproduksi space dalam konteks nasionalisme Indonesia.
Bangsa Indonesia yang senantiasa terombang ambing dalam keterpurukan ekonomi menjelang satu abad kebangkitan bangsa dan dihadiahi kenaikan BBM beberapa hari setelah Thomas Uber 2008 selesai digelar nampaknya meiliki kerinduan yang sangat akan perasaan keIndonesiaan. Setelah bertahun-tahun semboyan “memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat” berhenti bergaung dan digantikan dengan berita korupsi di tubuh KONI dan atlet-atlet tanpa tunjangan, ajang ini tampak menjanjikan pencerahan dan kebangkitan. Kembali Indonesia didera demam bulutangkis, di beberapa blog dan forum diskusi dikatakan bahwa mereka jadi kembali bermain bulutangkis yang sudah sejak lama tak lagi dilakukan. Kata-kata “Hidup Indonesia” kembali terdengar di mana-mana, bahkan lebih bergaung jika dibandingkan dengan saat perhelatan akbar Kebangkitan Bangsa diselenggarakan negara di stadion Senayan.
Krisis identitas sebagai orang Indonesia yang merupakan akibat langsung dari nation-building yang bisa dikatakan hampir tidak ada sementara terpaan globalisasi terus menerus mendera dapat teratasi sesaat dalam euforia Thomas-Uber 2008. Semua orang mendadak menjadi “Indonesia”, menjadi “nasionalis” dan mengagung-agungkan nasionalisme yang pada dasarnya terletak dalam memori kolektif yang selama ini ditidurkan baik dengan sadar ataupun tidak sadar. Setiap penonton menjadi jelas “indonesianya” melalui atribut dan rasa kebersamaan, baik ketika menyaksikan pertandingan secara langsung ataupun ketika menonton di rumah lewat layar kaca.
Sebuah pertandingan olahraga, dalam konteks ini adalah pertandingan bulutangkis Thomas-Uber 2008, dapat menjelma menjadi banyak makna dan bukan hanya sebagai spectacle belaka. Nama bangsa yang dipertaruhkan dalam pertandingan ini sanggup membangkitkan memori kolektif akan kejayaan bangsa dan menjadi pengikat bagi sebuah komunitas berbangsa. Di balik itu semua, serbuan kapitalis ikut meramaikan ajang olahraga ini dan bertarung meraih kekuasaan. Namun demikian tampaknya dalam olahraga ini semua pemilik modal dimenangkan, baik pemilik kapital ekonomi, kapital budaya ataupun kapital sosial. Bisa jadi hal ini terjadi karena pertarungan kapital yang ada terjadi tanpa sadar dan begitu mengecoh. Nasionalisme yang nyaris tak pernah memiliki ruang dalam himpitan kesulitan ekonomi dapat menghuni ruang yang besar berkat ajang bulutangkis ini. Thomas-Uber 2008 seolah menjanjikan harapan bahwa setelah seratus tahun berlalu sejak kebangkitan bangsa, Indonesia masih dapat menjadi bangsa yang bersatu, lepas dari ketidaksuksesan mendapatkan piala Thomas-Uber. Akan tetapi sayangnya, melihat kenyataan lebih lanjut, nasionalisme yang terbentuk hanyalah menjadi euforia dan kemudian bangsa Indonesia kembali sibuk dengan kenaikan BBM dan konflik antar umat beragama. Sebuah bukti bahwa proses yang terjadi bukanlah proses produksi nasionalisme namun masih sebatas konsumsi yang secara semu mencitrakan nasionalisme berbangsa dan bernegara Indonesia.



Daftar Pustaka

Anderson,Ben. 1991. Imagined Community. London-New York : Verso.

Baudrillard, Jean. 1986. La Socété de Consommation. Paris : Gallimard

Bourdieu, Pierre. 1979. La Distinction.Paris:les éditions de minuit

Hall, Stuart et al. 1996. Culture, Media, Language. London-New York: Routledge

“Penjual Kaos Kebanjiran Rejeki Saat Thomas-Uber Cup”, Kompas, Rabu, 14 Mei 2008

Situs Internet :

http://yuwanastiani.wordpress.com/2008/05/20/demam-thomas-uber-cup-2008/

http://www.lautanindonesia.com/forum/index.php?topic=8214.40

http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2008051100562313

http://stephzen.multiply.com/journal/item/205/Thomas-Uber_Cup_2008

www.kompas.com

www.bulutangkis.com

http://www.bultangmania.com
[1] http://yuwanastiani.wordpress.com/2008/05/20/demam-thomas-uber-cup-2008/

[2] “Penjual Kaos Kebanjiran Rejeki Saat Thomas-Uber Cup”, Kompas, Rabu, 14 Mei 2008

[3] Baudrillard, Jean. La Société de Consommation.

Jumat, 09 Mei 2008

The Hours who Really Took Hours of My Life

This is my right; it is the right of every human being. I choose not the suffocating anesthetic of the suburbs, but the violent jolt of the Capital, that is my choice. The meanest patient, yes, even the very lowest is allowed some say in the matter of her own prescription. Thereby she defines her humanity. I wish, for your sake, Leonard, I could be happy in this quietness. (Nicole Kidman as Virginia Woolf in The Hours:2002)
Kalimat indah yang diungkapkan dengan sempurna oleh Nicole Kidman ketika memerankan Virginia Woolf sebagai wanita pengidap depresi berat dan delusional di bawah tekanan suaminya yang mengatur setiap hembus nafas kehidupannya.

Sejak pertama nonton The Hours, sudah kesulitan memahami cerita, bukan karena alur yang rumit seperti 21 gramms misalnya, namun karena film itu sangat depresif….Penasaran tentunya, bahkan sejak dulu udah pengen menulis sesuatu mengenai film itu namun tidak tahu mesti memulai darimana sangking depresifnya film tersebut J

“Tiga wanita yang sedang mengalami depresi, dibintangi oleh Nicole Kidman, Julianne Moore dan Meryl Streep, menjadi tokoh sentral dalam film yang sukses meraih Oscar pada tahun 2002 dan penghargaan Golden Globe pada tahun 2003. Mereka digambarkan dalam tiga buah sketsa berbeda sesuai dengan tahun kehidupan mereka masing-masing dan disatukan oleh buku Mrs Dalloway karya Virginia Wolf. Kisah mengenai Virginia woolf yang sedang menulis buku Mrs Dalloway, diawali dengan gumamannya :”Mrs Dalloway said she’ll buy the flowers herself”, Lauren Graham membaca kalimat ini dan menirukannya sambil berbisik, kemudian Clarissa mengatakan hal ini kepada pasangannya : “Sally, I think I’ll buy the flowers myself” seolah sedang menjadi Mrs Dalloway di jaman modern.”

Film yang penuh misteri bahkan mungkin penuh dengan mistik, mengenai kerumitan perasaan seorang wanita, yang hidup dalam dunia patriarki ini. Wanita-wanita cerdas yang terkurung dalam kehidupannya masing-masing. Virginia Woolf, seorang penulis brillian yang pada akhirnya menyerah dan bunuh diri. Dalam perspektif film The Hours, bunuh diri adalah bukti eksistensinya sebagai manusia. Semasa hidup ia tidak pernah dapat memilih apapun yang ia mau, ia harus menurut pada suami dan dokternya yang semuanya laki-laki, dan saat ia bunuh diri, pada akhirnya ia membuat pilihan. Sebuah interpretasi yang sangat unik dari Michael Cunningham, penulis buku berjudul sama yang telah lebih dulu meraih penghargaan Pulitzer pada tahun 1999. Adegan bunuh diri Virginia Woolf diiringi pembacaan surat yang ditulis untuk sang suami Leonard Woolf dan pernyataan yang sangat menyentuh adalah ketika ia berkata “I owe all of my happiness to you”…….seolah-olah selama hidupnya, bahkan kebahagiaan pun adalah sesuatu yang diberikan oleh sang laki-laki……..

Lauren Graham, housewife di era 1950-an, berpenampilan seperti boneka porselen, diperankan secara sangat manis oleh Julianne Moore dalam balutan rok mengembang bermotif bunga-bunga dan rambut ikal mengkilat sebahu, berada di dapur dan memanggang kue J What a scene!!!!! Sorotan mata yang sangat penuh rasa sakit ketika ia menatap anaknya dan bertanya “What? What do you want?” seolah-olah dalam rumah itu ia terus menerus diawasi dan sama sekali tidak memiliki ruang pribadi bagi dirinya sendiri bahkan untuk “merasa”

Merryl Streep memerankan Clarissa Vaughn, seorang lesbian yang telah tinggal dengan pasangannya selama 18 tahun. Namun demikian ia adalah sang ratu rumah tangga yang pergi membeli bunga di pagi hari, memasak dan memiliki anak. Seorang wanita yang depresi karena ternyata masih mencintai mantan pacarnya yang adalah seorang laki-laki pengidap AIDS dan pada akhir film mati bunuh diri sambil memegang foto sang ibu yang tak lain adalah Lauren Graham.

Domestifikasi wanita, dominasi laki-laki, ketiadaan ruang pribadi, hak reproduksi dan hak membuat pilihan adalah tuntutan-tuntutan kaum feminis yang dapat dikupas dari film ini. Namun jika pada akhirnya tokoh Richard bunuh diri karena sang ibu memilih pergi meninggalkan keluarganya untuk bekerja pada sebuah perpustakaan di Kanada, tidakkah itu seolah-olah memperlihatkan efek buruk dari wanita yang pergi meninggalkan keluarga? Bahkan anak Clarissa yang melihat Lauren datang berkunjung setelah kematian Richard berbisik pada Sally, sang pasangan lesbian ibunya “Is it the devil?”

Wanita yang meninggalkan keluarga adalah sama dengan setan atau penjahat. Ia menghancurkan masa depan anaknya dan keluarganya. Bisa saja adegan ini diinterpretasikan sebagai contoh bagaimana masyarakat dalam konstruksi patriarki ini menghakimi para wanita yang berani membuat pilihan, namun tentunya akan sulit sekali membuang konstruksi patriarki dalam diri kita dan tidak berkata “ voila, gara2 si ibu sih ninggalin anaknya, sampe anaknya akhirnya mati bunuh diri!”

Film The Hours, adalah the hours….atau jam-jam kehidupan seorang wanita yang dimulai sejak adegan alarm di samping tempat tidur mereka berbunyi lalu harus bangun dan berinteraksi dengan semua orang dalam hidupnya namun tidak pernah keluar dari ranah domestik, dan secara tidak langsung juga menutup kehidupan mereka dalam ketertutupan. Jam-jam kehidupan seorang wanita, penuh dengan depresi yang tak terbaca oleh siapapun bahkan diri mereka sendiri, yang kerapkali merasa bahwa mereka tidak seharusnya begini dan mereka seharusnya membahagiakan segenap anggota keluarga. Jam-jam kehidupanh seorang wanita yang penuh dengan pilihan namun tak kuasa membuat pilihan demi bertahan dalam konstruksi-konstruksi yang dibuat masyarakat mengenai seorang wanita. Jam-jam kehidupan yang menggambarkan secara gamblang tuntutan kaum feminis selama berabad-abad baik dalam gelombang pertama, kedua ataupun ketiga……….
Sebuah film yang mengundang interpretasi ganda, sebagaimana wanita yang memang selalu kompleks, sebagaimana dalam hal seksualitasnya yang dapat terpuaskan dari stimulasi beragam organ dan tidak hanya tergantung pada satu organ tunggal seperti laki-laki. The Hours…..film yang sangat wanita, melihatnya adalah seperti sedang melihat seorang wanita secara utuh, seperti sedang berusaha membaca kewanitaan dalam diri sendiri……pada akhirnya menjadi makalah yang sudah mundur 3 minggu dari deadline makalah dikumpulkan, absorbing many hours of my life…….membuat kepala senantiasa tidak tenang namun tak kuasa berbuat apapun dan pada akhirnya juga tidak puas pada hasil akhir analisis meskipun sudah mencapai 11 halaman namun terpaksa dikumpulkan demi sebuah alasan akademis……….Sebuah film yang luar biasa The Hours who really took hours of my life……….

Minggu, 06 April 2008

Kapan Ya Ada PAK HAJI bisa ngomong begini?

Menemukan artikel ini dan sangat layak untuk dibaca dan direfleksikan...di tengah gonjang ganjing FITNA, dan semua ingin angkat senjata.......Kapan ya ada Pak Haji yang bisa bicara seterbuka ini dan tidak hanya menjejalkan dosa dan neraka but yet...mereka memimpin untuk merusak properti publik.......Indonesia rakyat muslimnya terbanyak......apa cuma bisa anarkis saja menyikapi gejala-gejala budaya di Indonesia?

Bambang Sugiharto,
"Filsuf Underground"KOmpas Minggu, 16 Maret 2008 01:02 WIB

Frans SartonoProfesor Doktor Bambang Sugiharto (52) oleh kawan-kawannya dijuluki sebagai ”filsuf underground”. Doktor filsafat yang lulus ”summa cum laude” dari Universitas San Tomasso, Roma, Italia, itu bukan hanya gemar musik rock, tetapi juga dekat dengan komunitas ”underground” Bandung. Di tengah situasi bangsa yang tengah bingung dan korup, Bambang melihat harapan pada kaum ”underground” itu.
”Mau minum apa? Mau whisky cola?,” kata Bambang menawari minuman pada Kompas saat bertandang ke ruang kerjanya di Fakultas Filsafat, Universitas Parahyangan (Unpar), Jalan Nias, Bandung, pada suatu sore yang sejuk awal Maret lalu.”Saya suka strong taste (rasa berani),” kata Bambang yang dikukuhkan sebagai guru besar ilmu filsafat di Unpar pada 16 Desember 2006.
”Sebagai intelektual de facto, saya masih menikmati musik rock. Saya suka Korn, Limp Bizkit, Linkin Park he-he…. Untuk mood tertentu saya masih dengerin itu semua,” kata Pembantu Dekan I di Fakultas Filsafat Unpar.
Apa sebenarnya yang tengah dialami bangsa ini tampaknya ada semacam kebingungan?
Ini kompleks. Saya melihat salah satu sisi masyarakat Indonesia sekarang baru terbangun dalam menyadari hak-haknya, tetapi mereka berbenturan dengan sistem yang tak berjalan baik. Birokrasi yang macet dan etos kerja yang begitu rendah. Mereka berhadapan dengan sistem yang tidak efektif untuk mengelola bangunnya kesadaran atas hak-hak itu. Eksesnya, mereka menjadi over-sensitif terhadap perlakuan sewenang-wenang.Sensitivitas berlebihan itu terungkap dalam anarkisme. Itu cerminan dari kebingungan dalam mengungkapkan hak, otonomi, dan kekuasaan. Kalau saya lihat di televisi, setiap hari pasti ada kekacauan, demo. Entah itu akibat penggusuran, PHK, atau ketidakpuasan lain.
Bagaimana peran tradisi atau agama?Sistem atau pola perilaku baku yang mengendalikan perilaku atau etos kerja itu pun sedang bubrah. Sistem pola baku, entah itu dari tradisi dan agama, kini berhadapan dengan kemungkinan penawaran baru. Akibatnya, pola lama menjadi tidak lagi berwibawa sebagai pegangan. Itu menambah kebingungan.
Korupsi itu bagian kebingungan? Termasuk wakil rakyat sampai jaksa?Hmm... tiba-tiba juga kita sedang terbuka dalam menikmati hidup, menikmati komoditas. Kalau saya lihat di mal saya bertanya bagaimana mereka bisa membiayai beli mainan yang sebenarnya mahal. Saya suka terheran-heran karena situasi ekonomi sulit, tetapi dunia konsumsi meledak.Itu menunjukkan pesona komoditas. Orang yang sudah capai miskin mencari comfort (kenyamanan) supaya bisa mencicipi material. Bagi mereka yang punya akses kekuasaan politik atau finansial yang lebih besar, segera masuk ke wilayah itu dengan membabi buta yang mengakibatkan korupsi dan segala macam itu.
Apa sebenarnya yang berada di balik budaya korupsi?Yang lebih mendasar adalah kesulitan untuk konsisten dan berkomitmen. Korupsi dalam berbagai bentuk itu bukan hanya soal uang, tetapi juga perilaku dan kiblat nilai. Kita sulit sekali konsisten dalam kesetiaan, dalam berkomitmen, dalam religi dan kiblat nilai.Anarki
Sehari-hari Bambang mengendarai Kymco, sepeda motor bebek otomatis untuk mengajar di Fakultas Filsafat Unpar di Jalan Nias. Tetapi, dia juga mengajar di Program Pascasarjana Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB dan FSRD Maranatha. Kadang dalam sehari ia harus wira-wiri ke tiga kampus itu. Karena Bandung macet, demi efektivitas waktu Bambang memilih motor. Mobil hanya digunakan untuk akhir pekan bersama keluarga.
”Saat naik motor saya alami betapa mudah saya menjadi bagian dari anarki. Godaan menjadi anarkis itu luar biasa. Saya berpikir, motor adalah kekuasaan paling sederhana yang dimiliki masyarakat bawah. Dengan motor, mereka memiliki excitement dan kekuasaan. Mereka sikat trotoar, terabas lampu merah. Situasi jalanan itu persis situasi birokrasi yang parah. Saya pikir itu juga ada kaitannya dengan sistem yang tidak jalan.”
Apakah itu masalah ketidakmampuan mengorganisasi segala sesuatu?Ini masalah ketidakmampuan mengorganisasi diri yang parah. Membenahi angkot saja tak jalan sampai puluhan tahun. Ketidakmampuan, bahkan untuk satu hal yang sederhana, itu sesuatu yang mengerikan. Sementara sistem yang sudah ada tidak jalan. Ketika kohesi kelompok menjadi sangat mengendur hal itu menjadi semakin kacau karena yang terjadi adalah survival of the fittest. Yang penting gue dulu selamat.
Apa sebenarnya di balik anarkisme itu?Pada tataran politik saya kira kita sudah lama berada dalam situasi keterjajahan yang parah. Pada masa Orde Lama, Orde Baru kita terus terjajah. Dalam situasi seperti itu, mau tak mau kekuasaan menjadi menarik. Bukan karena orang bisa menguasai orang lain, tetapi karena kekuasaan adalah privilege, hak istimewa, bukan tanggung jawab.Yang tertanam selama ini adalah atmosfer tertindas dan menindas sehingga dalam setiap pilkada semua orang ingin menjadi gubernur, bupati, bahkan presiden. Ada fenomena tragis waktu caleg, yaitu orang menjual apa pun dengan harapan akan kembali sekian kali lipat. Bahwa itu akses pada kekayaan dan kenyamanan. Saya kira itu motivasi sederhana bagi orang untuk memasuki kekuasaan.
Saya sulit sekali menemukan orang yang bisa saya yakini masuk ke dalam kekuasaan untuk bisa bertanggung jawab, untuk mengubah realitas.
Apakah kita tak punya kultur berorganisas?Saya curiga, itu bukan karena ketidakmampuan berorganisasi. Dalam sistem kerajaan organisasi itu mestinya jalan. Dalam Orde Baru kehidupan masyarakat sangat well organized—terorganisasi dengan sangat baik—sampai tingkat RT, RW. Ada posyandu di desa-desa dan semuanya jalan. Itu yang saya kagumi pada zaman Soeharto, yaitu kemampuan membuat struktur yang dahsyat sekali. Meskipun, tentu saja, ada kelemahan.
Sistem yang top down, dari atas ke bawah?
Ya, sistem top down itu menjadi struktur untuk membungkam aspirasi dari bawah. Itu seperti struktur dalam negara sosialis.Kita lihat yang terjadi sekarang, ketika orang ingin mengungkapkan aspirasi, strukturnya yang menjadi hancur. Ada atmosfer tidak percaya pada struktur.
Krisis identitasDalam situasi bingung dan kacau, Bambang melihat gejala krisis identitas. Orang kehilangan identitas dan bingung mencari pegangan.
”Intelektual merakit sendiri identitas mereka. Mereka tak andalkan kategori baku, seperti agama, suku, atau ideologi. Mereka menjumput dari apa pun. Mereka bangun identitas sendiri dengan bertualang atau mencampuradukkan apa pun.”
Bagaimana nasib kelompok yang belum terdidik?Masyarakat yang kurang terdidik, yang kemampuan kritisnya kurang berkembang, mengalami gerak sentripetal. Mereka kembali ke sistem-sistem harfiah. Pada agama itu bisa disebut fundamentalisme atau apa pun. Itu bisa masuk dalam sistem agama atau etnik.
Gerakan ideologisasi identitas seperti itu sedang berkembang. Ada kecenderungan dalam sistem identitas orang kembali pada sistem yang ada. Mereka tertutup pada kecenderungan kritis dan revitalisasi.
Sebetulnya, hal ini menambah keruh situasi. Dalam situasi seperti ini, identitas kolektif menjadi perpanjangan egosentrisme yang tidak realistis. Itu lebih merupakan identitas kepanikan dalam ketidakmampuan mengelola hal baru yang serba tak pasti. Akhirnya orang berlindung pada sesuatu yang pasti. Itu akan menakutkan karena pasti akan kontraproduktif. Muncul kemudian primordialisme yang berlebihan. Kalau di dalam agama itu adalah puritanisme yang menakutkan. Puritanisme dalam arti harfiah, bukan pada kekokohan pada prinsip moral, tetapi juga pada tendensi pemurnian atau pretensi memurnikan ajaran. Itu menakutkan.Saya tidak mengatakan itu jelek, tetapi ada unsur kontraproduktifnya. Ada unsur mengelakkan tantangan yang sebetulnya riil. Saya kira, kita perlu melihat identitas bukan sebagai sesuatu yang stereotip, baku dan mandek.”Underground”
Apakah ada harapan di tengah kondisi seperti sekarang?Saya melihat ada sementara kelompok yang mengalami gerak sentrifugal. Mereka keluar dari kerangkeng sistem dan membuat sistem sendiri. Keluar dari situasi chaotic (kacau), kelabu, dan pesimistis seperti saat ini saya melihat meriapnya gerakan mikro. Sebutlah itu mikro politik dalam bidang kebudayaan dan pendidikan. Orang mencari jalan sendiri, merevitalisasi diri sendiri, dan menggali kemampuan diri. Itu mengharukan.
Inisiatif, perpanjangan dari individualitas itu ternyata tidak selalu jatuh pada primordialisme sempit. Dari mereka ada gairah membentuk gerakan mikro. Misalnya, ada yang peduli pada situasi pendidikan. Mereka membuat gerakan pendidikan alternatif untuk mengimbangi apa yang tak didapat di sekolah. Daripada mengeluh terus.
Di Bandung ada kelompok kecil yang merintis toko buku alternatif. Mereka menjual buku yang mungkin tak pasaran. Mereka punya komunitas tersendiri.Apakah gerakan underground dari Ujungberung juga masuk dalam wilayah itu?Itu lebih mengharukan lagi. Bagaimana dari kawasan pinggiran itu tiba-tiba muncul kelompok yang menata diri. Dari sudut itu terlihat kemampuan mengorganisasi diri, melembagakan di dalam band-band.
Mereka tidak main-main. Kiblat dan referensi mereka fantastis. Dari wilayah yang kita kira pinggiran itu mereka punya akses internet ke denyut band rock global. Tadinya saya tak percaya, tetapi ketika akhirnya saya terseret masuk ke wilayah seperti itu saya sungguh kagum karena mutu musikal mereka fantastis. Saya tak pernah bayangkan anak Ujungberung memasuki wilayah yang sophisticate dalam bidang rock.
”Sophisticate?”
Ya, Ivan dari Burger Kill yang meninggal itu bacaannya George Orwell, 1984. Riwayat Ivan ditulis Ivan jadi novel. Mereka masuki wilayah sastra. Itu terobosan dari wilayah pinggiran lewat pola mikro sampai akhirnya memasuki wilayah dunia intelektual dengan cara sendiri.Yang menarik, setiap komunitas kecil itu punya koneksi dengan komunitas lain sehingga yang namanya pola organisasi dalam rangka jejaring itu betul-betul riil. Kelompok underground itu juga berkaitan dengan distro, penjual pakaian, dan toko buku. Itu menakjubkan.
Apa harapan dari kelompok mikro-politik itu?Saya tak tahu itu akan bakal jadi apa. Mereka adalah orang-orang yang masuk dalam jalur sentrifugal. Mereka berani menghadapi perubahan situasi dengan nyali dan nalar serta dengan passion yang baru. Mereka menghadapi perubahan tanpa panik, bahkan menyerbu dengan antusias. Ini sesuatu yang menjanjikan.
Mereka bergerak mengandalkan reflektivitas sendiri. Artinya sambil mengamit masa lalu mereka juga mengunyah yang baru, tetapi dengan gaya gue sendiri. Seperti slogan MTV: gue banget.
Mereka dituduh antek kapitalis.Kalau mereka dibilang budak dunia Barat, ternyata mereka punya jawaban canggih. Mereka tahu apa itu wayang, calung. Bahkan si Kimung itu skripsinya tentang sejarah angklung.Anda dekat dengan kaum underground?
Saya pernah diundang kelompok underground. Semula saya ragu-ragu. Bagaimanapun pergaulan saya di wilayah intelektual. Saya memang kenal sama mereka, tetapi ketika harus berhadapan dengan—istilah mereka—begundal-begundalnya, saya takut. Saya pernah diundang bicara dengan mereka. Di luar dugaan mereka semua santun. Sedikit saja ada hal sensitif mereka tepuk tangan.
Bagaimana Anda bicara dengan mereka?Sewaktu saya harus berbicara di depan mereka, saya sempat berpikir, apa mereka mengerti kalau saya ngomong, meski saya sederhanakan. Ternyata mereka mengerti dan sangat apresiatif sehingga citra rock itu kekerasan non-sense. Itu stereotip yang tak benar.

Indonesia Tanah Air Beta

Tanah airku Indonesia.........negeri elok amat kucinta.......Tanah tumpah darahku yang mulia....kan kukenang sepanjang masa...........

(cuplikan lagu nasional yang indah, entah anak-anak sekarang masih ingat atau tidak...atau bahkan, anak2 seumur gue, apa masih pada bisa nyanyi lagu itu? Kan kukenang sepanjang masa...apa memang Indonesia nan elok tempatnya hanya dalam kenangan?)

Rakyat Nestapa di Negara yang Sarat Rezeki itu judul artikelnya kompas hari ini...sedih banget...dengan ilustrasi bahwa negara ini yang gemah ripah loh jinawi tapi gak pernah mau ambil pusing mengolah apa yang ada, cuma membiarkan semuanya dikeruk perusahaan multinasional dan dijual balik dengan harga tinggi....................ditambah fakta bahwa banyak orang yang mengurangi makan karena gak punya uang untuk makan....dari 3 kali sehari cuma bisa satu kali sehari........walah walah..........mau jadi apa anak-anak negeri ini...? Makan aja gak bisa apalagi sekolah?

Berita berikutnya sama mengenaskannya meskipun gak ada sangkut pautnya dengan pangan :

Ir, singkatan gelar insinyur, di masa kini pasti ada cita-cita yang lebih mutakhir, yakni IC alias ”Idola Cilik”. Anak-anak dan orangtua bertangis-tangisan di televisi, menumpahkan keharuan betapa si anak kini terkenal, disapa semua orang, dimintai tanda tangan. Puji Tuhan.

Itu adalah cuplikan dari kompas pagi ini.......wow...negeriku bangsaku yang tercinta.....semoga banyak yang membaca, semoga bisa ada perubahan menuju kemajuan di negeri ini......

Itulah salah satu alasan yang senantiasa menguatkan untuk tetap jadi dosen UI meski katanya membuat pria lari tunggang langgang atas label arogan, sok tau, sok pintar dan sombong

Indonesia tanah air beta...pusaka abadi nan jaya...........

Sabtu, 05 April 2008

let's sing d'cinnamon

Good Morning
D’cinnamons

see the sky, so clears o cold, feel the spirit of brighter day today

hear the green saysso peace, so calmfeel the peacefulness and hopefulness today

# Good morning my loveI love you

hear the voicesthey’re singing for you they said ’bout happiness today
fell the wind touch your soulso deep, wake you up…

Back to #

but suddenly…there something disturb all of peacefulnessthere something destroy all of happiness

I never wanna let go this beautiful daythis beautiful daythey’re making soundthey’re making smelldisturb me… disturb me…

akhirnya kutemukan juga lirik lagu ini...............

Otak kok Mati Lampunya Lama Amat?

Otak itu bisa bener2 mati lampu yak?

LUMPUH………..emotionally breakdown………emotionally crashing…………..bangun jam 10 an jam 10.30 baru mampu bergerak……..kopi rokok internet, cetting ma temen2 biasa aja……….baca kompas……..marah2 soal negeri ini…….kuiz facebook……tetep rasanya BT ga ilang2…..mau mikir yang laen ga mampu…pengen ngobrol tapi ga tau ngobrol ma sapa…ambil hp tapi trus bingung sendiri………tadi mau telepon siapa?...........diubah pertanyaannya….kalo gitu sekarang telepon siapa?.........ding ding ding…dudududuu…dadadadaaaaaaaa….gak ada nama yg melintas di kepala…………..ok let’s find some coffee……..buka kopi baru…..tuang ke saringan kopi…….tuang air……….colok mesinnya………on………..hmmm balik lagi aha ke depan kompi……..kembali blank……….cetting ma sihol……..ma japra……..ma sihol lagi…………..hmmm ambil kopi ah…….jalan ke dapur….wangi kopi menyeruak……smile……… J ……..tuang kopi…….ambil gula satu sendok makan……kembali jalan ke kamar………..hmm kopinya wangi……..ganti status YM : the smell of coffee in the morning…….diskusi n’emporte quoi ma sihol……..ketawa ketawa……..sama farah bin japra…….dibikin bengong….gue dibilang nyeleneh…….can’t even start to describe it by words katanya………gue bilang aneh is my middle name malah dibilang nyeleneh………lapar….males cuci rice cooker trus masak nasi…..gak tega makan indomie……..smalam dah indomie-ing……..tapi lapar…….sihol sign out…mikirin tugas2 gue……….baca banyak banget soal feminisme buat bikin makalah……..koreksi ujian media massa………koreksi ujian mitologi……koreksi ujian CO BP II………baca buat critical review nya bu renny…….baca buat kuliahnya aimee dawis………nonton film aja kali ya?...........pilihan jatuh pada tidur lagi……….zzzzzzzzzzzz……….zzzzzzzzzzzzzzzz……it’s almost 4 pm……blum makan dari pagi…….baru kopi dan rokok dan tidur……..gotta get up in some point……..cuci rice cooker…….masak nasi………makan momogi dulu…..mandi……nyalain komputer lagi……makan dulu……telur dadar dan kornet yg ditumis pake cabe dan bawang putih……kenyang………tetep mati lampu kepalanya…nulis2 gak jelas gini……….online lagi…….sepi banget……..nulis lagi…….nyalain lampu depan …….dah magrib………panas……kepala tetep mati lampu……..gak tau lagi deh gimana kelanjutannya………..

Jumat, 28 Maret 2008

Sesuatu Yang Asing Datang Menghampiriku

Une chose etrange me rapproche
Me frappe sans coeur....S'enfuit sans promis

Qui est cet existence qui m'exile de mon être?
Qui n'a aucune idée de ma rigueur d'effacer mon désir….?

Terjemahan bebas dari :

Sesuatu yang asing datang menghampiriku
Datang tanpa hati……..Pergi tanpa janji

Siapakah engkau yang telah asingkan aku dari diriku
Dan tak tahu betapa sulit kubuang rindu…
(Teater Siluet – Rochmat Tono)

Udah lupa judul naskahnya……..hahahhahahahha, chat ma K’Angkie tiba2 diminta nerjemahin kalimat itu……wakkkakkkakkkaaaaaa….masih aja euy…it’s been 10 years kali sejak kalimat itu diluncurkan di atas pentas Teater, saat itu Teater 70, gue aja masih SMA……huhuhuhuhuhuhuhu……..memories…………..

Cari suami adalah ganti nama…….diri sendiri harus dibuang…..

Kau dan Aku adalah Kita…..tapi apa benar Kita mengharuskan semuanya jadi lebur? Menurutku Kita adalah 50 % Kau dan 50% Aku. Bisalah ditawar sesekali jadi 70% Kau dan 30 % Aku, atau sebaliknya, tapi tidak boleh menjadi 100% Kau dan 0% Aku ataupun sebaliknya…..

Dunia ini sudah berputar seperti itu sejak dahulu deka….kau tidak akan bisa merubahnya….well, siapa bilang aku ingin merubah dunia?

Pertama-tama, dunia ini kan memang dibangun atas azas patriarki? Kita, para wanita, hidup dalam aturan-aturan, norma-norma dan kebudayaan yang dibangun oleh para laki-laki…..Perempuan sejak dulu tidak pernah diberi kesempatan untuk mengenal dunia lain selain dapurnya atau ladangnya, kemudian, belum sempat mereka mengenal dunia luar, masuklah doktrin Agama, yang tentunya juga sangat patriarkal….Bukan berarti aku tidak mengakui Agama atau tidak ber Tuhan, tapi Agama memang tidak semestinya dijadikan aturan baku, satu-satunya.

Agama itu disebarkan sebagai sesuatu yang indah, pegangan yang menenangkan, bukan dogma yang penuh dengan ancaman…..Tidak akan pernah kulupa bahwa dahulu, kitab-kitab Agama tidak boleh dibaca oleh siapapun kecuali para pemimpin, apa itu bukan berarti bahwa sejak kemunculannya, para pemimpin Agama memang melarang orang untuk berpikir? Dan pada akhirnya, yang sampai di masyarakat luas adalah Agama memang membuat orang tidak berpikir? Begitu boleh dibaca, yang pertama membaca tentunya adalah laki-laki, gender yang pada saat itu diijinkan untuk bersekolah……jadi dimana peran makhluk bernama perempuan?

Aku feminis? Terserah menyebutku apa saja…….tapi itulah pemikiranku. Aku bukan ingin mengubah dunia, aku hanya ingin membuat duniaku tidak menjadi patriarki semata. Aku orang Jawa yang sejak kecil diajarkan untuk menghormati laki-laki dan menganggap mereka makhluk yang harus dilayani. Sekeras apapun aku menolak, di alam bawah sadarku aku memang menyetujui itu yang sudah diindoktrinasi ke dalam setiap jengkal keberadaanku. Namun bukan berarti soumise yang total, atau penyerahan diri yang total………..Kau dan Aku adalah Kita, tapi dalam Kita itu adalah Kau dan Aku, bukan hanya Kau dan bukan hanya Aku.

Aku dengan senang hati akan mengurus dapur, mengurus suami, melayani makan dan semua hal-hal kecil sehari-hari lainnya, tapi jangan lupakan bahwa itu adalah pilihanKu, bukan karena keharusan semata. Aku punya hak bicara dan membuat pilihan.

Deka, kalau laki-laki itu menghilang, kau tidak boleh mengejarnya, kau juga harus diam sama seperti dia…..ego laki-laki lebih besar dari perempuan, terimalah….seseorang mengatakan itu padaku.

WHAT????????? Jadi aku sebagai manusia harus lebur dan tidak lagi menganggap diriku sebagai makhluk yang punya pikiran dan punya hati? Apa yang kurasa saat dia pergi itu tidak penting? Kurasa sudah cukup untuk tidak marah-marah dan menuntut macam-macam, tapi aku perlu sebuah kompromi dengan diriku sendiri mengenai bagaimana aku akan menerima situasi itu kan? Bahwa kemudian aku memutuskan masih ada satu sms manis setiap hari dariku untuknya hingga saat aku sudah yakin pesanku sampai : bahwa aku baik-baik saja, selalu mendoakan dia dan masih merindukannya dalam hidupku….aku menetapkan deadline untuk diriku sendiri, seminggu mengemis sudah cukup dan setelah itu kita biarkan semuanya mengalir, terserah mau bagaimana…..Menurutku itu sudah lebih dari cukup, dan seharusnya tidak mengganggu ego siapapun. Kenapa aku harus 100% memuaskan ego nya dan menganggap diriku sendiri tidak penting?

WOW, aku terdengar sangat Egois…..nah itu dia…saat perempuan mengatakan : “lalu, apa yang kurasakan tidak penting?” semua orang akan bilang “kau egois” dan saat pria yang mengatakan “aku harus pergi dan kau harus terima itu” orang akan berkata “itu wajar, pria kan memang seperti itu”

Terlihat kan betapa kita hidup dalam pakem-pakem budaya patriarki?

Seorang teman berkata lagi “Apakah kau sudah bersikap atau menempatkan diri sebagai perempuan yang sedang mencari calon suami?”

Pernyataan apalagi itu? Memang bagaimana seharusnya perempuan yang sedang mencari suami itu bersikap?

Mundur dari profesi sebagai dosen UI karena setiap laki-laki hanya akan merasa kalah pintar, dan langsung menganggapmu sombong, arogan, angkuh, merendahkan orang lain, sok pintar dan sok tau? Sehingga akhirnya kau tidak akan mungkin mendapatkan laki-laki manapun dengan profesimu?

Ikut program diet, memanjangkan rambut, memutihkan kulit, melepas kacamat dan ikut beauty pageant?

Atau berhenti berpikir, berhenti kuliah S2, jadi anak rumahan, berhenti hangout sampai tengah malam, berhenti merokok dan minum alkohol, dan pake Jilbab?

Atau berhenti bicara dan stating my opinion karena perempuan seharusnya simple dan tidak punya opini?

Gak bawa laptop kemana-mana dan terlihat mobile, diam menunggu dia meneleponmu dan tidak pernah meneleponnya?

Berhenti bicara bahasa Indonesia yang baik dan benar, merubah gaya bicara agar selalu terlihat rendahan dan tidak tau apa2? Merendahkan volume suara dan intonasi bicara yang terdengar mantap?

Aku clueless…….kalau memang diantara pernyataanku di atas ada yang dibenarkan oleh siapapun, wow………mencari suami adalah mengganti namamu…….nama disini berarti mengganti identitasmu….aku bukan deka lagi, aku adalah orang lain….Deka itu dosen sastra Prancis UI yang jam terbangnya tinggi, mobile dan pastinya arogan, sok tau dan sok pintar, sangat Prancis yang suka pake baju seksi, feminis, merokok, minum alkohol dan pulang pagi.

Kalau memang semua laki-laki tidak ada yang mau untuk melihat sisi manusiku di balik semua label yang diciptakan sendiri oleh lingkungan patriarki ini......I am doomed…matilah aku……tidak akan pernah aku memiliki pasangan hidupku yang akan menjalani kehidupan ini bersamaku dan saling menemani menghadapi semua kesulitan….

But then again……apa semua hal itu worthed? Leburkan identitasmu, jadilah makhluk kosong berdaging tanpa hati tanpa pikiran……demi dinikahi atau menikah? (karena tampaknya bagi perempuan hanya pantas konsep dinikahi dan bukan menikah.......bohong besar mereka semua yang sok-sok an bilang menikah)

Rabu, 26 Maret 2008








It Was like a dream…..or was it a dream? A journey to never never land that my books told me when I was a little girl…A trip to honey land and get a treat from winnie the Pooh….get a cuddly hug from the wise and comforting Teddy Bear and playing with eeyore who jump up and down with silly eyes…

A swing hanging from a tree, in the middle of flowery garden…..there were lilies….sunflowers……daisies…..white roses and jasmines……Playing there with the rabbit from alice in wonderland…Cinderella and her Prince Charming walking pass and greet me with a warm hello along with invitation to visit their castle…..

A fairy Godmother and tinkerbell dancing around me, sparkling their magic spell coloured in gold…..blue clear sky, white clouds and green green grass…..of a hut in the middle of forest called home, filled with incredible creatures who always smile and protect me from harm…..not even a sting of bee or a mosquito bite…….

It felt like that…….it really felt like that…..it was like a dream, or was it really a dream?

Nighty night…dream a little dream of me….somewhere out there beneath the pale moonlight……

Deka

Dionysius dan Hermes

betapa ia layak dipuja saudara saudari yang berkenan menikmati hidup.............


Dionysius adalah dewa anggur dan pesta pora yang memperkenalkan kultivasi anggur hingga ke India…..

Dionysus is the productive, overflowing and intoxicating power of nature, which carries man away from his usual quiet and sober mode of living. Wine is the most natural and appropriate symbol of that power, and it is therefore called "the fruit of Dionysus." (Dionusou karpos; Pind. Fragm. 89, ed. Böckh.) Dionysus is, therefore, the god of wine, the inventor and teacher of its cultivation, the giver of joy, and the disperser of grief and sorrow. (Bacchyl. ap. Athen. ii. p. 40; Pind. Fragm. 5; Eurip. Bacch. 772.)
he cured diseases by revealing the remedies to the sufferers in their dreams. (Paus. x. 33. § 5.)
As the Greek drama had grown out of the dithyrambic choruses at the festivals of Dionysus,


Dan..........................................aku ingin sekali terbang seperti sang kurir Tuhan yang mengenakan sepatu dan topi bersayap dari emas......Hermes, the messenger of God yang sanggup mengelabui Apollo

Selasa, 25 Maret 2008

HORE HATIKU MASIH HIDUP

semalam baru bisa tidur jam 3 an.....pagi ini jam 7 kepala dah ngajak bangun padahal mata dan seluruh syaraf motorik gue masih tidur nyenyak......Tersiksa sama isi kepala tanpa dukungan badan, akhirnya kukerahkan seluruh badanku untuk bergerak bangun menuju satu tujuan : KOPI.........namun apa daya.....ketiga tempat penyimpanan kopiku habis pagi ini.....DAMN!!!!! Terakhir kopi hitam nya kubeli di Bali, memang sengaja beli langsung 2 kilo biar buat stock......trus awal bulan kemaren ada pria yang menjanjikan akan membawakan kopi Bangka di akhir bulan ini.....dan aku kembali tersadar, dia dah memilih untuk pergi dari hidupku ya? DOUBLE DAMN!!!!!! hehehehhehehhe......jadi tersenyum sendiri....dunia memang lucu banget ya.....

Melihat kenyataan yang ada, sakaw cafein terpaksa diganti Tein.....jadilah aku ngeteh saja pagi ini......dan biar nambah semangat.......online dulu pagi-pagi, siapa tau dapet senyuman :-)

Makasih Opan udah datang ke kantor pagi-pagi jadi bisa nemenin gue ngobrol.....komentar loe bikin gue pengen nulis blog :

"loa gak lagi stress kan dek?"

huhuhuhuhuhu...............u are so wright my friend......jurusan kandang macan dan konsep diri gue gak bisa terbangun dengan baik gara-gara IP 3.25 dianggap gak cukup.......sudah biasa....stress karena side job 1 berakhir, dah biasa..........hehehhehehhe.......yang tidak biasa? PATAH HATI......

hahahhahahahhahhaha, alhamdulilah hati gue masih ada, masih hidup, cuma mati suri selama beberapa tahun...........makasih Tuhan.....untuk menunjukkan bahwa hati ini masih ada.....hari ini jadi lebih baik rasanya :-)

selamat pagi dunia..................

Kamis, 20 Maret 2008

Komputer.........Hati........Pilihan.......Kebahagiaan



Selamat pagi dunia………..lagi-lagi aku yang menunggu, lagi-lagi aku yang menanti…….rasanya seperti kalah , jika memang hidup itu mengenai kalah dan menang…..Sejak kemarin aku memulai pagiku dengan beres-beres…..perwakilan dari beres-beres hati, aku beres-beres hard disk komputerku J kemaren men-defrag sang mesin pintar, pagi ini ber clean-up si hard disk……….

Komputer ini adalah cintaku………setia menemaniku kerja malam hingga dini hari, setia menemani curhat-curhat bodohku, setia membantuku menghasilkan uang dan juga tidak pernah rewel jika terbentur-bentur ketika kubawa.

Sempat terpikir untuk mendandaninya sedikit kemudian menjualnya dengan harga cukup tinggi, well, 50% dari hari harga beli yang tercinta ini 3 tahun yang lalu sudah cukup untuk membeli sebuah cinta baru yang lebih kecil, lebih canggih…..gila2an kan harga teknologi sekarang? Namun aku rasa aku tak akan pernah kuasa menjual benda ini…..ia bisa saja kujadikan PC yang tak pernah dibawa2 lagi, khusus untuk membuat tugas di rumah, bekerja, internet-an, sementara untuk keperluan mobile kupakai yang lebih kecil…ia akan kupercanggih, lalu akan kubeli yang kecil dan tidak terlalu canggih khusus untuk kepentingan mobile,…….

Kepada sebuah benda saja bisa ada ikatan sedemikian besar……bayangkan kekecewaan dan kegelisahan yang harus kulalui setiap melepas seseorang pergi…..tapi memang luar biasa sang Maha Kuasa itu…pernahkah membayangkan betapa banyak guncangan dan tikaman yang menimpa hati? Namun hati yang jelas-jelas bukan liver itu dan kita tak tahu ada di bagian mana tubuh kita itu, tidak akan pernah berhenti menyayangi, tidak akan pernah berhenti menikmati segala karunia yang Dia berikan……

Aku tidak sedang membicarakan hati-hati hitam yang tak pernah sudi mengenal pagi, namun hanya hati-hati normal yang masih bisa tersentuh indahnya mawar putih yang mekar bersama naiknya sang mentari…..indah, indah dan indah……..

Kalau kata seorang teman, Tuhan itu tidak Maha Kuasa, Tuhan itu hanyalah sekedar answering machine, karena apapun yang ia minta tak pernah dikabulkan, jadi saat ia bicara pada Tuhan, semua itu masuk ke answering machine tak berbalas.

Sebuah kesimpulan yang lucu menurutku, dan ada benarnya……karena memang sering permintaan kita tak terjawab oleh Tuhan bukan? Akan tetapi, demi kesehatan jiwa ku sendiri, aku lebih suka memilih untuk tetap percaya……..pada keajaiban (meski takkunjung datang dan pagi ini aku tetap sendiri kebingungan menatap hidup), pada rahmat dan berkat yang kuasa (ini akan bisa dicari-cari kalau mau), pada kebahagiaan (menurutku yang ini hanya ada di cara pandang dan akan kutulis beribu kata untuk definisikan kebahagiaan suatu hari nanti).

Percaya itu indah…….percaya itu nyaman, percaya itu pilihan…..kadang aku bingung, orang-orang yang rajin beribadah kok ya bisa-bisanya tidak lagi percaya dan skeptis? Ada juga yang rajin beribadah dan percaya buta, seolah-olah tak berakal hanya beriman? Aku sendiri? Tak serajin itu………tapi untukku, lagi-lagi, it’s all about “the choice”

U chose to be happy, u chose to believe, u chose to be sad, u chose to be brokenhearted, u chose ………u chose………u chose……..C’est un choix

Meskipun alam bawah sadar ini sedih……beberapa menit saat bangun tidur rasanya hampa dan devastated…..begitu gaining your consciences, saat itulah pilihan dibuat…..dan pagi ini aku memilih untuk menyalakan komputer, bikin kopi, menyalakan rokok, mendengarkan lagu, bernyanyi sekedarnya, disc cleanup lalu menulis, menulis dan menulis……………….

Have a nice morning everyone…………….

Jumat, 14 Maret 2008

Sebuah Puisi Mengenai Rasa

Rasa Malam ini

Rasanya nyaris tak pernah,
Atau bahkan tak pernah
Hatiku berdegup semantap ini
Dalam penantian

Dahulu semuanya nyaris tak tenang
Atau bahkan memang tak pernah tenang
Menunggu kepastian
Mencari yang paling pasti
Dan memilih ketidakpastian sebagai yang paling pasti

Saat ini rasanya damai
Menantinya sejuk berhembus
Ke seluruh ruang jiwa yang terbakar rindu
Jatuh cintakah aku?

Jumat, 14 Maret 2008

What a crazy week……..he's not there at all but it feels like he's always there beside my path

Selasa, 11 Maret 2008

hidupku hari ini

Teman-teman sakit......teman-teman sedih......ada yang kehilangan orangtua.....tapi hati ini masih dihinggapi cinta......untuknya........terimakasih untuknya yang menemani jiwa ini dan suaranya terngiang-ngiang mendamaikan hati.......

aku belum bisa istirahat, aku masih hidup di dunia liarku.....this is me, this is my life.....hope u can take me as i am

Senin, 10 Maret 2008

lagi-lagi Adorno sekarang tambah Marcuse


Thanks to JSTOR....thanks to WIKI.....jadi Adorno itu mau bilang bahwa society udah terjebak dalam culture industry, yaitu mass industry yang ditumpangi ideologi dengan kesadaran bahwa culture itu gak hanya menciptakan sebuah struktur tapi juga sebaliknya, culture diciptakan oleh sebuah struktur, jadi dilihat sebagai objek.

Alat bantunya adalah teknologi yang bisa sangat manipulatif, contohnya film......dengan adanya montase, lighting, sound, dekupase dll, kemasannya jadi sangat menarik dan orang jadi hanya konsumsi, gak lagi liat ideologi yang sebenernya jadi messagenya. Ideologi yang bermain dalam film seperti ini adalah ideologi menjual, menciptakan culture alias budaya yang didomplengi kekuatan capitalism.

culture industry kesannya dekat dengan high art dan beda dengan massed production tapi ya sama aja.....dari sini terlihat tendensi marxisnya si Adorno.

Yang belum terlihat dari teori Adorno adalah bahwa ada yang namanya true dan false needs....jadi meskipun dia bilang bahwa culture industry itu false needs, kan gak dengan sendirinya high art menjadi true needs? Disinilah Marcuse membuahkan pikirannya mengenai balance antara marxiste dan kapitalis......yaitu bahwa orang memang semestinya kapitalis alias ekonomi minded, tapi jangan kehilangan ideologinya sebagai marxiste yang membuat mereka tetap jadi manusia berpikir, punya conscience bukan hanya kompromis. Kalau itu terjadi, demokrasi bisa terwujud.

Tapi apakah mungkin ada keadaan seperti itu? Tidakkah itu terlalu utopis?

Marcuse kok kayanya ngeliat kebudayaan sebagai hasil, lagi2 objek dan bukan subjek, yang sebenarnya punya kekuatan untuk mengubah sebuah struktur, jadi bisa terjadi perubahan dari bawah bukan sekedar dari atas: mengenai keseimbangan prinsip marxiste dan capitalis ini. Ada interaksi dalam kebudayaan dan interaksi ini yang menjamin kelangsungan kebudayaan.

jadi menurutku............interaksi dalam kebudayaan ini yang penting bukan hanya hasil akhir....tapi saya melihat kebudaayaan dengan segala produk-produknya sebagai hasil interaksi, tukar menukar ganti posisi antara marxisme dan kapitalisme, antara prinsip idealis yang berbasis rakyat dan kebebasan dengan ekonomi kapitalis. Kalau tercapai titik keseimbangan, justru kebudaayaan itu berhenti, karena tak ada lagi interaksi......hanya sesuatu yang stabil, dan membosankan, bagai air tenang tak beriak.......

Adorno CAN wait

Haduh haduh...........someone please explain, kenapa bapak Adorno yang tercinta ngomongin mass culture and cultural industry? sumpe bahasanya gak bangeeeeeeeeeeeettttttttt........Bourdieu seems more logic, padahal secara filsuf Prancis udah pasti muter2 kalo ngomong...bahkan yang sekontemporer Alain Caille juga gile bener...tapi ya ampun....pak filsuf jerman emang rada gila........kagak masuk gue ke bahasa culture nya.......

Why should I care anyway.....kalo societe de consommationnya Baudrillard begitu menarik dan begitu logis menjelaskan fenomena terhegemoninya konsumen dan menghadirkan konformitas alih-alih kesadaran saat mengkonsumsi?

duh blog nya jadi serieus pisan......padahal tadinya pengen cerita cinta, hehehhehe......

GARA GARA ADORNO SIALAN!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Minggu, 09 Maret 2008

On friendship and friendship and never ending friendship

Pak….tadinya aku mau telfon,tapi takut ganggu jadi aku sms aja…smoga kamu bahagia&baik2 saja ya hari ini…..aku ga tau kamu ga hubungin aku karena gak bisa atau gak mau, tapi gpp……semuanya aku serahin ke kamu, aku ikut aja apa yang menurut kamu baik

Sebuah sms yang panjang dan merangkum semua yang ingin kukatakan, dirangkai dalaam bahasa Indonesia yang tertata rapi….menyatakan ketakutan kehilangan, keinginan untuk bersama, kekhawatiran akan keberadaannya, kepasrahan dan pernyataan cinta.

Kata-kata yang hanya bisa kurangkai di ujung hari setelah sebuah sore yang panjang dan indah bersama teman-teman sejati….tanpa mereka tak akan mungkin ada keberanian mengirimkan kata-kata itu, tanpa mereka tak mungkin bisa kurangkai perasaan dengan tenang dan pasrah……tanpa mereka…………

Aku orang yang beruntung, kaarena menemukan begitu banyak orang baik yang sudi kupanggil teman. Hidup ini akan sepi tanpa mereka, aku akan kehilangan arahku tanpa mereka. Teman-temanku adalah perpanjangan tangan Tuhan di dunia, yang senantiasa melimpahiku dengan kasih, keceriaan dan semangat kehidupan…….

Aku pernah kehilangan seorang sahabat, direnggut maut karena kecelakaan, 3 tahun yang lalu, dana hingga detik ini masih terasa lukanya. Masih tersisa kata-kata “seandainya……”

“seandainya aku sempat mengatakan terima kasih kepadanya…….”
“seandainya aku sempat mengatakan betapa aku menyayanginya…….”
“seandainya aku sempat mengatakan selamat tinggal, see u in a better place……’
“seandainya……”
“seandainya…….”
“dan seandainya……….”

Betapa pedih dan sedih untuk tau beberapa teman baikku saat ini sedang menderita sakit. Beberapa sakit berat yang cukup berarti, yang membuatku berpikir, jika saja itu terjadi padaku, mungkin aku tak akan sanggup melewatinya……Mereka orang-orang tangguh, orang-orang tabah…….dan rasanya, aku ingin melakukan apapun untuk sekedar meringankan beban mereka…….agar mereka tetap tersenyum dan berbahagia…..

Sungguh berbahagia untuk punya satu teman saja…….betapa beruntungnya aku bahawa Tuhan memberikanku beberapa………..

Jumat, 07 Maret 2008

friendship


Begitu banyak kata-kata manis untuk friendship alias persahabatan.....Begitu banyak deskripsi, tips sampai kuiz tentang friendship......tapi how do you know you really got a friend?How do you know you deserved to be called "a friend"?


All I know is that I'm lucky that i can call these lovely people "my friend"